City Tour

City Tour of Yogyakarta

 

Selamat pagi Bapak Ibu, bagaimana kabar Anda hari ini?. Lalu bagaimana dengan perjalanan menuju kotaYogyakarta, apakah menyenangkan?. Saya ucapkan sugeng rawuh, selamat datang di Yogyakarta. Sebelumnya perkenalkan saya Dian Pertiwi, tetapi Bapak Ibu cukup memanggil saya Dian. Saya dari 4Trust Tours & Travell. Saya disini sebagai pemandu wisata Anda yang akan membimbing dan menemani Anda berkeliling kotaYogyakarta. Mari kita mulai perjalanan hari ini, silakan memasuki kendaraan yang telah kami sediakan. Sebelum kita mulai tour kali ini sebaiknya kita berdoa terlebih dahulu.

Nah, saya akan menceritakanYogyakarta secara umum. Yogyakarta berdiri pada tahun 1755. Yogyakartaterdiri dari 4 kata yaitu Ayodya yang berarti tempat, Hayuberarti indah, Bagyo yang artinya bahagia, dan Karto yang berarti makmur. Jadi Yogyakarta adalah tempat yang indah, selalu membahagiakan dan makmur. Yogyakarta adalah salah satu provinsi istimewa di Indonesia karena pemimpinnya yaitu seorang Sultan yang sekaligus menjabat sebagai Gubernur. Disamping itu dulu Yogyakarta pernah digunakan sebagai ibukota Republik Indonesia Serikat. Yogyakarta sendiri memiliki luas lebih kurang 3.186 km2 dan berpenduduk 3.311.812 jiwa. Selain itu Yogyakarta terbagi menjadi 5 Daerah Kabupaten/Kota yaitu kotaYogyakarta yang merupakan ibukota DIY, Kab.Sleman dengan ibukota Beran, Kab.Gunungkidul dengan ibukota Wonosari, Kab.Bantul dengan ibukota Bantul, dan Kab.Kulonprogo dengan ibukota Wates. Yogyakarta mempunyai banyak sebutan seperti Kota Gudeg, karena gudeg adalah makanan khas Yogya yang terbuat dari buah nangka muda,santan kelapa, gula aren, ayam dan telur kampung. Disebut juga Kota Pelajar karena disini terdapat 127 universitas dan yang paling terkenal adalah Universitas Gadjah Mada. Disebut pula Kota Andong,Kota Perak di Kotagede, Kota Perjuangan, dll.

Tour pada kesempatan kali ini dimulai dari Edotel SMK N 4 Yogyakarta. Edotel adalah sebuah hotel yang terletak di Jalan Sidikan No.60 Umbulharjo Yogyakarta. Hotel ini selain digunakan untuk akomodasi juga berfungsi sebagai alat praktek bagi jurusan Akomodasi Perhotelan di sekolah ini.

Disebelah kiri jalan terlihatJogja Fish Market. Sebuah pasar yang menyediakan ikan segar baik tawar maupun laut. Pasar ikan higienis merupakan aplikasi program pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu gizi bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diupayakan bagaimana konsumsi ikan perkapita masyarakat dapat ditingkatkan pula. Disini juga terdapat Aquarium Resto yaitu restoran yang tidak hanya digunakan sebagai tempat makan, namunjuga dapat digunakan untuk keperluan pesta, rapat, dll. Dengan luas 450 m2, tempat ini juga didukung dengan fasilitas AC, sound system, dekorasi, dan perlengkapan pesta. Jam buka setiap hari pukul 08.00-21.00

Nah, kita sekarang memasuki kawasan Kotagede. Kotagede merupakan kota tua Yogyakarta yang berada kurang lebih 6 km dari tenggara Yogyakarta. Kotagede dianggap sebagai asal usul keberadaan kerajaan Mataram Islam didirikan pada 1586 oleh Danang Sutowijoyo. Pengolahan perak di Kotagede merupakan warisan yang bernilai tinggi yang sudah ada sejak pendirian Mataram Islam. Hal ini dimulai dari tugas masyarakat terhadap kebutuhan bangsawan pada waktu itu dan kemudian secara luas menjadi salah satu produk komoditas. Kebanyakan orang di Kotagede adalah pengrajin dan produsen kerajinan perak, sebagai hasil itu mengarah Kotagede dikenal sebagai sabagai kota Perak.

Sekarang kita akan melewati Omah Dhuwur disebelah kanan Anda. Nama Omah Dhuwur dipilih karena bangunan ini secara geografis ada pada tanah yang lebih tinggi dari pada bangunan lain di sekitarnya. Bangunan yang awalnya sebagai tempat tinggal ini, pada bulan April 2002 resmi menjadi sebuah restoran. Omah Dhuwur terletak pada tanah seluas 3800 m2 dan luas bangunan kurang lebih 2800 m2. Bangunan ini sudah berdiri sejak 150 tahun dan sejak dihuni oleh keluarga Pak Tembong. Fungsi rumah ini sering berubah-ubah, sempat digunakan sebagai pabrik tenun hingga menjadi sebuah restoran sampai sekarang. Omah Dhuwur bukan hanya sebagai tempat yang mempunyai nilai estetik dan sejarah yang tinggi saja, namun juga sebagai sebuah restoran yang menyediakan masakan mewah yang patut Anda nikmati. Dikelilingi olah nuansa Jogja tempo dulu Omah Dhuwur menjadi pilihan utama bagi Anda yang menginginkan sebuah pengalaman kuliner di Jogja. Restoran Omah Dhuwur menawarkan sebagai makanan khas lokal yang dipadukan secara sempurna dengan masakan kontinental dan oriental yang mampu menghasilkan citarasa “fushion” yang menakjubkan. Jam buka setiap hari pukul 11.00-23.00 WIB. Fasilitas 100 tempat duduk, lounge and bar. Layanan paket meeting, paket wedding, paket ulang tahun.

Di sebelah kiri Anda terdapat bangunan megah yaitu HS Silver. Sebuah art shop yang menjual berbagai macam kerajinan perak seperti cincin, kalung, anting, gelang, bros, dll. Cara membuat perak ada 3 macam :

  1. Perak Buatan Tangan/ Handmade

Kerajinan perak ini murni dibuat dengan tangan, tanpa mengandalkan mesin. Dari proses awal hingga akhir dikerjakan dengan tangan. Kerajinan inilah yang merupakan cikal bakal industri perak di Kotagede dan bahkan sampai sekarang pun kerajinan perak Kotagede masih didominasi kerajinan buatan tangan. Cara membuat perak masih dengan cara tradisional. Untuk mencampur perak dan tembaga ini kedua bahan dipanaskan dengan api dari kompor yang menggunakan bahan bakar gas. Setelah itu bahan dipotong berdasarkan keperluan. Misalnya gelang, bahan itu dibentuk pipih dengan lebar 2-3 cm dan panjang sekitar 15 cm. karena masih lentur, bahan itu kemudian dibentuk melingkar seperti gelang.Bahan yang sudah jadi kemudian di ampelas dan dibersihkan dengan asam jawa kemudian direndam dengan garam dan air yang mendidih. Selesai dibersihkan, bahan disikat kemudian dikeringkan sampai tidak ada air sama sekali. Langkah terakhir adalah bahan dipoles agar mengkilap dan barang siap dijual.

  1. Perak Cetakan/ Casting

Akhir-akhir ini perak cetakan sering dijadikan alternatif produksi kerajinan perak. Terutama untuk permintaan produk dengan kuantitas besar dan waktu yang terbatas. Sebenarnya sistem pembuatan perak cetak/castingini ada beberapa teknik. Dari yang menggunakan peralatan sederhana sampai penggunaan mesin casting sentrifigural yang lumayan mahal harganya. Dan biasanya produk perhiasan yang ada dipasaran dibuat dengan mesin casting sentrifigural.

       3. Perak Buatan Mesin/ Mechinery

Kerajinan perak dengan sistem produksi mesin juga merupakan sistem produksi massal seperti casting. Hanya saja disini digunakan mesin sebagai ganti mesin casting. Produk-produk yang dibuat dengan mesin biasanya adalah kalung dan gelang rantai.

 

Bila berbicara tentang makanan enak tidak lengkap rasanya bila ke Kotagede tanpa mencicipi sate karang yang berada di Lapangan Karang. Lapangan ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk melakukan berbagai macam aktivitas, mulai dari berolahraga, bermain, hingga berdagang yang dilakukan pada malam hari.  Yang diperdagangkan di lapangan ini adalah salah satu makanan khas Kotagede yaitu sate karang. Sate karang merupakan sate daging sapi giling manis dengan 2 keunikan. Keunikan yang pertama adalah 3 pilihan sambalnya, yaitu sambal kacang, sambal kecap, dan sambal kocor. Sambal kocor adalah sambal cabe manis seperti bumbu rujak. Keunikan yang kedua adalah minuman beras kencur, sebuah minuman yang dibuat dari beras dan kencur yang ditumbuk. Sebelum meninggalkan Kotagede jangan lupa membeli kipo, makanan khas Kotagede pula yang terbuat dari tepung beras dan berisi parutan kelapa manis. Makanan ini disajikan dalam bentuk seperti jari-jari tangan manusia dan diletakkan diatas daun pisang. Lebih sedap disantap saat masih hangat.

Sekarang kita melewati Jalan Kemasan. Jalan ini dinamakan jalan kemasan karena dulunya tempat ini merupakan pemukiman para pengrajin emas dan pengusaha emas yang juga merupakan abdi dalem keraton Yogyakarta.

Lalu sekarang kita memasuki wilayah Gedong Kuning. Gedong Kuning adalah sebuah jalan kecil yang dikelilingi bangunan klasik disepanjang kedua sisi terlihat sebuah permulaan yang eksotis bagi wisatawan setelah melewati gerbang. Gedong berarti bangunan, dan Kuning berarti emas. Gedong Kuning ini  dulunya adalah bangunan tempat pesanggrahan atau gedong milik Sultan Agung yang dilabur dengan warna kuning. Oleh karena itu tempat ini disebut Gedong Kuning.

Terlihat disebelah kanan Anda terdapat rumah makan Gudeg Bu Citro. Menu andalannya adalah gudeg. . Ada berbagai jenis gudeg antara lain :

  • Gudeg kering yaitu gudeg yang disajikan dengan areh kental, lebih kental dari santan pada masakan padang.
  • Gudeg basah yaitu gudeg yang disajikan dengan areh yang lebih encer.
  • Gudeg solo yaitu gudeg yang arehnya berwarna putih.

Masih disebelah kanan Anda terlihat gedung megah yang sangat luas, yang bernama Graha Pradipta atau orang awam sering menyebutnya Jogja Expo Center (JEC). Luas keseluruhan tempat ini adalah 14 ha dengan luas bangunan 1 ha. Tempat ini juga mempunyai landasan bagi helikopter serta ruang untuk kontainer 40 kaki dengan kapasitas 20 truk. Bangunan ini sering digunakan untuk pameran, gedung pernikahan, rapat, pertemuan dll. Gedung ini dibangun oleh pemerintah Yogyakarta untuk mendukung misi JogjaExpoCenter sebagai pusat perdagangan internasional dan pusat pelayanan bisnis.

Lalu masih disebelah kanan Anda terdapat Museum Dirgantara Mandala. Meseum ini banyak menampilkan sejarah kedirgantaraan bangsa Indonesia serta sejarah perkembangan angkatan udara Republik Indonesia pada khususnya. Disini terdapat bermacam-macam jenis pesawat yang dipergunakan pada masa perjuangan. Bangunan Gedung Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala yang ditempati sekarang adalah bekas pabrik gula Wonocatur pada zaman Belanda, sedangkan pada zaman Jepang digunakan untuk gudang senjata dan hangar pesawat terbang. Koleksi Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala memamerkan benda-benda koleksi sejarah diantaranya koleksi peninggalan para pahlawan udara, diorama,miniatur pesawat, pesawat terbang dari negara-negara Blok Barat dan Timur, senjata api, senjata tajam, mesin pesawat, radar, bom atau roket, parasut, dan patung-patung tokoh TNI Angkatan Udara.

Nah, disebelah kanan Anda terdapat bangunan baru yaitu Rumah Sakit Harjolukito.

Lalu didepan kita terdapat Jembatan Layang Janti. Di Yogyakarta hanya terdapat 2 jembatan layang yaitu, Janti dan Lempuyangan. Sekarang kita berada di Jembatan Layang Janti, dan apabila kita beruntung, kita dapat melihat Gunung Merapi dari sini. Jembatan layang ini dibangun untuk mencegah kemacetan yang sering terjadi di tempat ini. Dan jika kita belok ke kiri, kita akan menuju jalan ke Bandara Internasional Adi Sucipto. Adi Sucipto adalah nama pahlawan pilot Angkatan Udara yang meninggal saat kemerdekaan Indonesia.

Nah, bisa dilihat disebelah kanan Anda terdapat Hotel Ambarukmo, ini adalah bangunan asli kota tempat tinggal Sultan HB VII yang lengser di tahun1921 setelah anak laki-lakinya bertahta. Sekarang hotel berbintang 4 Ambarukmo berada di Jalan Solo. Tetapi sudah tidak beroperasi lagi karena bangkrut.

Lalu disebelah kanan Hotel Ambarukmo terdapat Gandok, sebuah tempat peristirahatan bagi sultan dan keluarganya. Bentuk bangunan ini seperti joglo, rumah khas Jogja.

Bangunan megah yang berada disebelah kanan Anda adalah Ambarukmo Plaza/ Amplaz, ini adalah bangunan baru pula dimana tempat ini merupakan pusat perbelanjaan terlengkap di DIY dan Jawa Tengah, dan pusat perbelanjaan terbesar kedua setelah Malioboro di Yogyakarta. AmbarukmoPlaza mempunyai hubungan dengan Keraton Yogyakarta. Yaitu menurut para Abdi Dalem Keraton, sejak dibangun bangunan tersebut jalan yang semula lurus menjadi berbelok-belok.

Nah, didepan kita sekarang ini adalah Sungai Gajah Wong, yang berarti gajah dan orang. Dahulu ceritanya ada seorang manusia yang akan memandikan gajahnya disungai ini. Tetapi tiba-tiba banjir besar datang sehingga menghanyutkan keduanya. Untuk mengenang kejadian itu maka sungai ini dinamakan Gajah Wong.

Lalu disebelah kanan Anda terlihat Museum Affandi. Museum ini terletak di Jalan Laksda Adi Sucipto 167 Yogyakarta. Affandi adalah pelukis terkenal di dunia yang wafat pada tahun 1990. Disini Anda bisa melihat hasil karya Affandi, dan tidak mustahil juga Anda bisa mendapatkan salinan lukisan yang dibuat oleh anak perempuannya, Kartika Affandi.Museum yang terletak disebelah barat sungai Gajah Wong ini memiliki area seluas 3500 are yang terdiri dari museum itu sendiri dan bangunan yang dulunya merupakan rumah Affandi. Bentuk permukaan tanah yang tak lazim memberikan inspirasi kepada Affandi untuk merancang bangunan yang unik dan lingkungan yang mengitarinya. Hasilnya, sebuah lingkungan yang terpadu yang sangat unik hasil dari rancangan Affandi sendiri. Sebagai bagian dari kompleks museum, rumah Affandi memiliki atap berbentuk daun pisang, sama seperti galeri-galeri sebelumnya. Rumah yang memiliki 2 lantai ini sebagian besar terbuat dari kayu.

Lalu disebelah kiri Anda terdapat Universitas Islam Negeri, salah satu universitas Islam terbesar di Yogyakarta, yang juga merupakan salah satu lambang mengapa Yogya disebut sebagai Kota Pelajar.

Lalu disebelahnya terdapat Gedung Mandala Bhakti Wanitatama, dulu digunakan sebagai persembahan kongres wanita yang pertama kali. Tetapi sekarang digunakan untuk pameran, gedung pernikahan, rapat, dll. Gedung ini terdiri dari 3 bangunan utama yaitu Bale Shinta, Bale Kunthi, dan Bale Utari

Sekarang kita berada di Jalan Urip Sumoharjo, tetapi orang sudah terbiasa menyebutnya dengan Jalan Solo karena jalan ini merupakan penghubung Jogja-Solo. Ini adalah pusat perbelanjaan tekstil di Yogja.

Disebelah kiri Anda terdapat bangunan dengan gaya arsitektur Belanda. Ini adalah Rumah Sakit Bethesda. RS Bethesda diresmikan oleh Dr. J. Gerrit Scheurer dengan nama PETRONELLA ZIENKENHUIS dan berdiri sejak tanggal 20 Mei 1899. Tetapi agar orang tahu bahwa ini adalah rumah sakit Kristen, maka namanya diganti Bethesda yang artinya kolam penyembuhan. Dulu rumah sakit ini dikenal rumah sakit TOELOENG/PITULUNGANkarena rumah sakit ini mementingkan pertolongan dulu dan mengesampingkan apa dan siapa yang ditolong.  Rumah sakit ini mempunyai motto unik yaitu Help First, Pay Latter.

Setelah melewati rumah sakit Bethesda kita melewati Jalan Jendral Sudirman. Jalan ini sangat unik, karena jika siang hari jalan ini hanya satu arah, tetapi jika malam hari berubah menjadi dua arah. Dilain sisi lain jalan ini sangat ramai karena terdapat banyak gedung penting seperti restoran, hotel, bank, dan kantor-kantor.

Lalu disebelah kiri Anda terdapat Toko Buku Gramedia, salah satu toko buku terbesar di Yogja. Didepan toko buku ini terdapat patung turso Ki Hajar Dewantara, atau yang mempunyai nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat lahir di Yogyakarta, pada tanggal 2 Mei 1889 dan meninggal pada tanggal 26 April 1959 dengan usia 69 tahun. Beliau adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau adalah Bapak Pendidikan yang mempunyai 3 semboyan, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha yang artinya didepan memberi contoh yang baik. Ing Madya Mangun Karsa yaitu ditengah memberi dukungan. Dan Tut Wuri Handayani artinya dari belakang memberi dorongan

Disebelah kanan Anda dapat melihat Hotel Mercure, sebuah hotel berbintang 5, disebelah kirinya adalah bangunan lama yaitu Hotel Phoenix.

Lalu didepan Anda terdapat bangunan yang menjulang tinggi berwarna putih. Itu adalah Tugu Golong Gilig/Tugu Jogja yang merupakan lambang kota Jogja. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwono I, pendiri Keraton Yogyakarta. Tugu yang terletak di perempatan Jl Jenderal Sudirman dan Jl. Pangeran Mangkubumi ini, mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, Keraton Yogja dan Gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.Tugu ini sekarang merupakan salah satu objek pariwisata Yogya, dan sering dikenal dengan istilah “tugu pal putih” (pal juga berarti tugu), karena warna cat yang digunakan sejak dulu adalah warna putih. Tugu pal ini berbentuk bulat panjang dengan bola kecil dan ujung yang runcing di bagian atasnya. Dari kraton Yogyakarta kalau kita melihat ke arah utara, maka kita akan menemukan bahwa Jl.Malioboro, Jl.Mangkubumi, tugu ini, dan Jl.Monumen Yogya Kembali akan membentuk satu garis lurus persis dengan arah ke puncak gunung Merapi. Tugu itu ternyata juga menjadi salah satu poros imajiner pihak Kraton Yogyakarta. Jika ditarik garis lurus dari selatan ke utara, atau sebaliknya, maka akan ditemukan garis lurus ini: Laut Selatan, Panggung Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi. Tugu Golong-Gilig semula dibangun setinggi 25 meter. Kemudian karena gempa tektonik pada 10 Juni 1867 atau 4 Sapar Tahun EHE 1284 H atau 1796 Tahun Jawa sekitar pukul 05.00 pagi, tugu itu rusak terpotong sekitar sepertiga bagian. Musibah itu bisa terbaca dalam candra sengkala Obah Trusing Pitung Bumi (1796). Tugu itu kemudian diperbaiki oleh Opzichter van Waterstaat/Kepala Dinas Pekerjaan Umum JWS van Brussel di bawah pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V. Lalu tugu baru itu diresmikan HB VII pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa. Tetapi ketinggiannya dikurangi hingga menjadi 8m. Oleh pemerintah Belanda, tugu itu disebut De Witte Paal (Tugu Putih).Ada tradisi untuk memeluk dan mencium monument ini setelah menyelesaikan sekolahnya di sebuah universitas.

Bapak-bapak dan Ibu-ibu, sekarang kita telah berada di Jalan Mangkubumi. Mengapa jalan ini dinamakan Mangkubumi? Karena Mangkubumi adalah pahlawan yang sekaligus sultan pertama di Yogyakarta. Karena jasanya yang begitu besar maka namanya diabadikan sebagai nama jalan ini.

Lalu disebelah kiri Anda terdapat kantor Surat kabar tertua di Yogyakarta, yaitu Kedaulatan Rakyat, surat kabar lokal di Yogya. Harian Kedaulatan memiliki moto Migunaning Tumpraping Liyan yang berarti bermanfaat bagi orang banyak. Koran Harian Kedaulatan Rakyat Yogya terbit pertama kali pada tanggal 27 September 1945 dan merupakan Koran ke 2 setelah 1 koran dengan bahasa Jawa yang dibredeli oleh tentara Jepang. Dulu namanya adalah Sinar Matahari.

Nah, di sebelah kiri Anda terdapat sebuah bangunan peninggalan Belanda bernama KedaungPlaza. Dulu ini adalah Hotel Tugu. Orang Jogja menyebutnya Gauk, alarm tua peninggalan Belanda. Gauk tersebut berbentuk seperti terompet besar, dan dipasang di atas menara dan gedung. Pada jamannya gauk ini berfungsi sebagai peringatan tanda bahaya perang dan peringatan hari besar. Bila belum pernah mendengar bunyinya, saat bulan puasa RRI Yogyakarta memutar suara gauk ini sebagai tanda berbuka puasa. Dua buah gauk tua masih bertengger di pusat kota Yogya, di atas gedung tua (KedaungTableTopPlaza) depan stasiun Tugu dan gauk utama yang terletak di selatan pasar Beringharjo, bertengger di atas menara.

Di sebelah kanan Anda terdapat sebuah stasiun kereta. Stasiun tersebut bernama Stasiun Tugu. Stasiun ini mulai menjadi pemberhentian kereta api sejak tahun 1887 dan memiliki potensi wisata. Stasiun Tugu mulai melayani kebutuhan transportasi sejak 2 Mei 1887, sekitar 15 tahun setelah Stasiun Lempuyangan. Awalnya stasiun ini hanya digunakan untuk transit kereta pengangkut hasil bumi dari daerah di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Namun sejak 1 Februari 1905, stasiun ini mulai digunakan untuk transit kereta penumpang. Jalur luar kota pertama dibangun pada tahun 1899, menghubungkan Yogyakarta dan Surakarta. Berawal dari sebuah stasiun kecil, stasiun Tugu kini telah menjadi salah satu stasiun terbesar di Yogyakarta.

Lalu di sebelah kiri Anda terdapat sebuah adipura. MonumenAdipura tersebut merupakan penghargaan kota Yogyakarta karena Yogyakarta memperoleh predikat kota terbersih. Penghargaan tersebut diterima oleh Walikota Yogyakarta di Istana Negara Jakarta dan bertepatan dengan hari lingkungan hidup. Kota Yogyakarta berhasil memperoleh penghargaan adipura sebanyak 7 kali dan penghargaan terakhir diterima pada tahun 2007.

Sekarang disebelah kiri Anda terdapat Hotel Inna Garuda. Bangunan ini didirikan pada tahun 1908. Nama aslinya adalah Grand Hotel De Djogja. Pada periode Jepang namanya berganti Hotel Asahi dan setelah tahun 1945 berubah menjadi Hotel Merdeka. Lalu pada tahun 1950 berganti lagi menjadi Hotel Garuda. Warna hotel ini selalu putih karena itu merupakan symbol Noni-noni/ wanita Belanda yang selalu menggunakan baju berwarna putih.

Dan disebelah kanan Anda adalah Kampung Sosrowijayan. Ini adalah kampung internasional karena terdapat banyak hotel disepanjang jalan ini.

Nah, kita sekarang melewati Jalan Malioboro. Jalan Malioboro adalah jalan tertua dan terpopuler di Yogya. Malioboro merupakan bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga. Karena dulu saat keraton sedang mengadakan hajatan, jalan ini dipenuhi oleh karangan bunga. Dipinggir jalan ini terdapat banyak kios-kios yang memajang barang dagangannya, mulai dari batik, aneka kerajinan tangan, hingga makanan khas Yogya. Jalan ini dijuluki jalan yang tak pernah tidur karena hampir setiap waktu dipenuhi pengunjung. Biasanya wisatawan akan berfoto dibawah tulisan ‘Jl. Malioboro’. Konon jika belum berfoto dibawah tulisan tersebut, mereka belum ke Yogyakarta.

Disebelah kiri Anda adalah Kepatihan Danurejan. Bangsal kepatihan yang merupakan bagian dari bangunan Patih Danurejo yang menjabat semacam menteri pada masa penjajahan Belanda dengan nama Kepatihan Danurejan. Bangunan ini berada ditimur Jl. Malioboro. Kini digunakan sebagai bangunan cagar budaya.

Lalu masih disebelah kiri terdapat Pasar Beringharjo. Sebuah pasar tradisional yang terus berkembang ini dibangun diatas tanah seluas 2,5 ha dan mengalami rehabilitasi selama dua kali tahun 1951 dan 1970. Bangunan ini berada di Jl. Ahmad Yani. Pasar Beringharjo merupakan salah satu komponen dalam pola tata kota kerajaan yang biasa disebut Catur Tunggal, yaitu Keraton, Alun-alun Utara, Pasar, dan Masjid. Nama Beringharjo diberikan oleh Sri Sultan HB IX yang artinya bering = pohon beringin dan harjo = makmur. Nama itu cocok karena dulunya tempat ini banyak pohon beringin dan merupakan lambang kebesaran dan pengayoman bagi banyak orang.

Disebelah kanan Anda adalah Ngejaman, yang merupakan jam dinding tertua di Yogya.  Bangunan ini berada di tengah pertigaan ujung Jl. Ahmad Yani. Bangunan ini didirikan pada tahun 1916 sebagai persembahan masyarakat kapada Belanda untuk memperingati satu abad kembalinya kolonial Belanda dari pemerintahan Inggris yang sempat berkuasa di Jawa pada abad ke-19.

Lalu disebelah kanan Anda terdapat Gedung Agung/Istana Yogyakarta. Bangunan ini sama halnya dengan istana kepresidenan lainnya yaitu sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden Republik Indonesia.Ada 5 Istana Negara di Indonesia :

  • Isatana Merdeka di Jakarta
  • Istana Bogor di Bogor
  • Istana Tampak Siring di Bali
  • Istana Cipanas di Jawa Barat
  • Gedung Agung di Yogyakarta

Gedung ini juga sebagai tempat menerima tamu-tamu negara. Istana Yogyakarta terdiri atas enam bangunan utama yaitu Gedung Agung (gedung Utama), Wisma Negara, Wisma Indraphrasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu dan Wisma Saptapratala. Gedung utama selesai dibangun pada tahun 1869 dan hingga sekarang bentuknya tidak mengalami perubahan. Ruangan utama yang disebut dengan Ruang Garuda berfungsi sebagai ruangan resmi untuk menyambut tamu negara atau tamu agung lain.

Disebelah kiri Anda terdapat Museum Benteng Vredeburg, sebuah benteng yang didirikan pada tahun 1765 oleh VOC di Yogyakarta selama masa kolonial VOC. Dulu namanya adalah benteng Rustenburgyang artinyabenteng peristirahatan, lalu diganti dengan nama Vredeburg yang artinya benteng perdamaian. Gedung bersejarah ini terletak tepat didepan Gedung Agung dan Istana Sultan Yogyakarta yang disebut Keraton. Benteng ini dibangun VOC sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan gubernur Belanda kala itu. Benteng ini dikelilingi oleh sebuah parit yang masih bisa terlihat sampai sekarang. Benteng berbentuk persegi ini mempunyai menara pantau di keempat sudutnya. Di masa lalu, tentara VOC dan juga Belanda sering berpatroli mengelilingi dindingnya. Sekarang, benteng ini menjadi sebuah museum. Disejumlah bangunan di dalam benteng ini terdapat diorama mengenai sejarah Indonesia.

Dan disebelah kiri Anda terdapat Monumen Serangan Umum 1 Maret.  Monument ini dibangun untuk memperingati serangan tentara Indonesia terhadap Belanda pada tanggal 1 Maret 1949. Serangan itu lebih dikenal Serangan Fajar, karena saat orang Indonesia berperang dengan Belanda, saat itu masih pagi. Ketika itu Negara Indonesia telah dianggap lumpuh dan bahkan tidak ada oleh Belanda. Maka dari itu TNI membuktikan dengan serangan besar-besaran di daerah Wehrkreise III dengan komandan Kolonel Soeharto.

Nah, diseberang jalan terlihat bangunan megah yaitu Bank Negara Indonesia/BNI. Bangunan tua nan elegan ini didesain oleh arsitek Jawa yaitu R.Sindutomo pada tahun 1923. Zaman kolonial Belanda bangunan ini digunakan sebagai kantor Asuransi dan kantor De Javasche Bank. Lantai bawah pada zaman Jepang digunakan sebagai kantor radio Hoso Kyoku. Pada awal kemerdekaan digunakan sebagai studio Radio Mataram yang dikenal dengan Mavro. Bangunan ini terletak di sebelah selatan Jl.Ahmad Yani, sebelah kantor Pos Besar Yogyakarta. Tepatnya di Jl.Trikora. Jalan ini merupakan jalan terpendek di KotaYogyakarta.

Dan disamping BNI terdapat Kantor Pos Besar Yogyakarta. Pada zaman kolonial Belanda fungsinya tak jauh beda yaitu sebagai kantor pos, telegraf dan telepon. Bangunan ini merupakan bangunan dengan model Belanda. Hal ini terbukti dengan arsitektur bangunannya yang tinggi menjulang dengan pintu dan jendela yang besar-besar.

Nah, disebelah kiri Anda terdapat sebuah lapangan berumput yang lumayan luas yang sering disebut dengan Alun-alun Utara. Dahulu tanah lapang yang berbentuk persegi ini dikelilingi oleh dinding pagar yang cukup tinggi. Sekarang dinding ini tidak terlihat lagi kecuali di sisi timur bagian selatan. Saat ini alun-alun dipersempit dan hanya bagian tengahnya saja yang tampak. Di bagian pinggir sudah dibuat jalan beraspal yang dibuka untuk umum.Di pinggir Alun-alun ditanami deretan pohon Beringin dan ditengah-tengahnya terdapat sepasang pohon beringin yang diberi pagar yang disebut dengan Waringin Sengkeran/Ringin Kurung (beringin yang dipagari). Kedua pohon ini diberi nama Kyai Dewadaru dan Kyai Janadaru. Pada zamannya selain Sultan hanyalah Pepatih Dalem  yang boleh melewati/berjalan di antara kedua pohon beringin yang dipagari ini. Tempat ini pula yang dijadikan arena rakyat duduk untuk melakukan “Tapa Pepe”saat Pisowanan Ageng sebagai bentuk keberatan atas kebijakan pemerintah. Pegawai /abdi-Dalem Kori akan menemui mereka untuk mendengarkan segala keluh kesah kemudian disampaikan kepada Sultan yang sedang duduk di Siti Hinggil.Pada zaman dahulu Alun-alun Lor digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara dan upacara kerajaan yang melibatkan rakyat banyak. Di antaranya adalah upacara garebeg serta sekaten, acara watangan serta rampogan macan, pisowanan ageng, dan sebagainya. Sekarang tempat ini sering digunakan untuk berbagai acara yang juga melibatkan masyarakat seperti konser-konser musik, kampanye, rapat akbar, tempat penyelenggaraan ibadah hari raya Islam sampai juga digunakan untuk sepak bola warga sekitar dan tempat parkir kendaraan.

Lalu diselatan Alun-alun Utara adalah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di KotaYogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas. Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahanyang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta.

Disebelah kanan Anda terdapat Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta. Selain keramik pada zaman Neolitik dan patung perunggu dari abad ke-8, museum ini juga menyimpan beberapa macam bentuk wayang kulit, berbagai senjata kuno (termasuk keris), dan topeng Jawa.Museum yang terletak di bagian utara Alun-alon Lor dari keraton Yogyakarta itu pada malam hari juga menampilkan pertunjukkan wayang kulit dalam bentuk penampilan aslinya (dengan menggunakan bahasa Jawa diiringi dengan musik gamelan Jawa). Pertunjukan wayang kulit ini disajikan secara ringkas dari jam 8:00-10:00 malam pada hari kerja untuk para turis asing maupun turis domestik.

Lalu masih disebelah kanan Anda yaitu Masjid Agung Keraton Yogyakarta adalah bangunan masjid yang didirikan di pusat (ibukota) kerajaan. Bangunan ini didirikan semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I. Perencanaan ruang kotaYogyakarta konon didasarkan pada konsep taqwa. Oleh karenanya, komposisi ruang luarnya dibentuk dengan batas-batas berupa penempatan lima masjid kasultanan di empat buah mata angin dengan Masjid Agung sebagai pusatnya. Sedangkan komposisi di dalam menempatkan Tugu (Tugu Pal Putih) – Panggung Krapyak sebagai elemen utama inti ruang. Komposisi ini menempatkan Tugu Pal Putih-Keraton-Panggung Krapyak dalam satu poros.Bangunan Masjid Agung Keraton Yogyakarta berada di areal seluas kurang lebih 13.000 meter persegi. Areal tersebut dibatasi oleh pagar tembok keliling. Pembangunan masjid itu sendiri dilakukan setelah 16 tahun Keraton Yogyakarta berdiri. Pendirian masjid itu sendiri atas prakarsa dari Kiai Pengulu Faqih Ibrahim Dipaningrat yang pelaksanaannya ditangani oleh Tumenggung Wiryakusuma, seorang arsitek keraton. Pembangunan masjid dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah pembangunan bangunan utama masjid. Tahap kedua adalah pembangunan serambi masjid. Setelah itu dilakukan penambahan-penambahan bangunan lainnya.Bangunan Masjid Agung terdiri dari beberapa ruang, yaitu halaman masjid, serambi masjid, dan ruang utama masjid. Halaman masjid terdiri atas halaman depan dan halaman belakang. Halaman masjid merupakan ruangan terbuka yang terletak di bagian luar bangunan utama dan serambi masjid. Halaman ini dibatasi oleh tembok keliling. Sedang halaman belakang masjid merupakan makam Nyi Achmad Dahlan dan beberapa makam lainnya.

Bapak-bapak Ibu-ibu, pada masa pengaruh Islam di Indonesia telah ada kereta-kereta yang dipesan dari luar negeri. Kereta-kereta yang dipesan ini terutama kereta-kereta kebesaran yang digunakan untuk acara-acara kenegaraan/kerajaan. Di Indonesia khususnya lagi di Jawa kereta-kereta yang berasal dari luar negeri dan juga buatan dalam negeri serta kemudian menjadi milik beberapa kerajaan seperti Kasultanan Cirebon, Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Paku Alaman semuanya terawat dengan cukup baik. Kereta-kereta Keraton Yogyakarta berjumlah sebanyak 18 buah. Kereta-kereta tersebut sekarang tersimpan di Museum Kereta Keraton Yogyakarta di Jl. Rotowijayan, dapat dilihat disebelah kanan Anda. Kereta-kereta tersebut kemudian dianggap pusaka dan diberi nama seperti pusaka-pusaka keraton lainnya. Nama-nama kereta tersebut adalah:

  1. Nyai Jimat
  2. Kyai Garudayaksa
  3. Kyai Jaladara
  4. Kyai Ratapralaya
  5. Kyai Jetayu
  6. Kyai Wimanaputra
  7. Kyai Jongwiyat
  8. Kyai Harsunaba
  9. Bedaya Permili
  10. Kyai Manik Retno
  11. Kyai Kuthakaharjo
  12. Kyai Kapolitin
  13. Kyai Kus Gading
  14. Landower
  15. Landower Surabaya
  16. Landower Wisman
  17. Kyai Puspoko Manik
  18. Kyai Mondrojuwol

 

 

Sekarang kita melewati Pasar Ngasem. Konon, kawasan Pasar Ngasem dahulu merupakan danau yang sering digunakan Sultan Hamengku Buwono II berpelesir sambil melihat-lihat keindahan keraton dari luar benteng. Namun, lama-kelamaan danau tempat berpelesir Sultan tersebut beralih fungsi menjadi perkampungan dan di tengah-tengah kampung tersebut menjadi sebuah pasar yang khusus menjual burung.Awal berdirinya Pasar Ngasem tidak diketahui secara pasti, namun sebuah foto kondisi pasar tahun 1809 yang dimuat dalam situs http://www.tembi.org telah membuktikan bahwa keberadaan pasar ini sudah ada jauh sebelum foto itu diambil. Pendirian pasar burung ini kemungkinan besar berhubungan dengan kedudukan burung atau kukila bagi masyarakat Jawa, khususnya di kalangan para priyayinya. Dalam masyarakat Jawa, burung tidak hanya sekedar sebagai hewan peliharaan melainkan juga berfungsi sebagai simbol bagi status seseorang. Kedudukan satwa yang dapat terbang dan berkicau indah ini hampir disamakan dengan kedudukan turangga (kuda), curiga (keris), wisma, dan wanita yang merupakan syarat untuk menjadi seorang priyayi. Hal ini membuat seorang priyayi Jawa belum merasa menjadi priyayi yang sesungguhnya apabila ia belum mempunyai kelima “benda” tersebut.Sekitar tahun 1960-an Pasar Ngasem berkembang menjadi semakin luas dengan dipindahkannya pasar burung yang berada di wilayah Pasar Beringharjo. Pemindahan pasar burung dari Beringharjo ini membuat Pasar Ngasem semakin identik sebagai sebuah pasar burung, sehingga tidak mengherankan bila banyak turis mancanegara yang menyebutnya sebagai bird market. Sebagai catatan, sebenarnya Pasar Ngasem tidak hanya menjual burung saja, melainkan juga hewan-hewan peliharaan lainnya. Namun, karena kegiatan jual-beli burung yang lebih menonjol, maka pasar ini lebih dikenal sebagai pasar burung.

Bapak-bapak dan Ibu-ibu, disebelah kanan Anda adalah Istana Air Taman Sari. Pesanggrahan Taman Sari yang kemudian lebih dikenal dengan nama Istana Taman Sari yang terletak di sebelah barat Keraton Yogyakarta dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I dan diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana II. Meskipun demikian, lokasi Pesanggrahan Taman Sari sebagai suatu tempat pemandian sudah dikenal jauh sebelumnya. Pada masa pemerintahan Panembahan Senapati lokasi Taman Sari yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Umbul (mata air) Pacethokan. Umbul ini dulu terkenal dengan debit airnya yang besar dan jernih. Pacethokan ini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi penentuan letak calon Keraton Yogyakarta. Pesanggrahan Taman Sari dibangun setelah Perjanjian Giyanti (1755), yakni setelah Sultan Hamengku Buwana sekian lama terlibat dalam persengketaan dan peperangan. Bangunan tersebut dimaksudkan sebagai bangunan yang dapat dipergunakan untuk meneteramkan hati, istirahat, dan berekreasi. Meskipun demikian, Taman Sari ini juga dipersiapkan sebagai sarana/benteng untuk menghadapi situasi bahaya. Di samping itu, bangunan ini juga digunakan untuk sarana ibadah. Oleh karenanya Peanggrahan Taman Sari juga dilengkapi dengan mushola, tepatnya di bangunan Sumur Gumuling.Nama Taman Sari terdiri atas dua kata, yakni taman‘kebun yang ditanami bunga-bungaan’ dan sari ‘indah, bunga’. Dengan demikian, nama Taman Sari dimaksudkan sebagai nama suatu kompleks taman yang benar-benar indah atau asri.

Lalu kita melewati Masjid Soko Tunggal ini terletak di kompleks Keraton Kesultanan Yogyakarta dan tepatnya didepan pintu masuk obyek wisata Taman Sari. Keistimewaan dari masjid ini terletak pada soko guru (tiang penyangga utama) nya yang hanya satu buah dan ditopang oleh batu penyangga yang biasa disebut Umpak, yang berasal dari zaman pemerintahan Sultan Agung Hanyokro Kusumo dari Kerajaan Mataram Islam dengan disain berbentuk Joglo Jawa. Keunikan mesjid ini karena hanya menggunakan satu pilar, biasanya bangunan berkonsep Joglo Jawa disangga oleh minimal empat soko guru. Keunikan lain, masjid ini dibangun tanpa menggunakan paku. Arsitek yang merancang masjid Sokotunggal adalah R. Ngabehi Mintobudoyo (almarhum), arsitek Keraton Yogyakarta yang terakhir. Desainnya berbentuk joglo, dengan satu menara dari besi dan satu tiang berukuran 50 cm x 50 cm.Arsitektur bangunan masjid ini sarat dengan makna. Jika para jama’ah duduk di ruangan masjid, akan terlihat 4 buah Saka Bentung dan 1 buah Saka Guru. Semuanya berjumlah 5 buah. Merupakan lambang negara kita Pancasila. Sedangkan SOKOGURU merupakan lambang sila yang pertama, ialah : KETUHANAN YANG MAHA ESA. Usuk sorot (memusat seperti jari-jari payung), disebut juga peniung merupakan lambang Kewibawaan negara yang melindungi rakyatnya.Kita juga akan menemukan beragam ukir-ukiran. Ukiran ini selain dimaksudkan untuk menambah keindahan dan kewibawaaan, juga mengandung makna dan maksud tertentu.

Bapak-bapak ibu-ibu disebelah kiri Anda terdapat Sasono Hinggil Dwi Abad. Dibangun pertamakalinya pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I (1756) sebagai Siti Hinggil Kraton bagian belakang dimana di tempat ini Sultan menyaksikan para prajurit berlatih (watangan) dan menyaksikan rampogan (acara mengadu binatang yaitu antara banteng dan harimau).Bangunan awal tersebut kemudian direnovasi pada tahun 1957 guna memperingati 200 tahun berdirinya Kraton Yogyakarta, sehingga menjadi bentuk seperti sekarang. Sasono Hinggil Dwi Abad kini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk aktifitas olahraga (diantaranya olah raga beladiri) dan budaya, diantaranya sebagai ajang pentas wayang kulit (setiap bulan pada minggu kedua).

Nah, disebelah kanan Anda adalahAlun-alun Kidul (Selatan), yaitu alun-alun di bagian Selatan Keraton Yogyakarta. Alun-alun Kidul sering pula disebut sebagai Pengkeran. Pengkeran berasal dari kata pengker (bentuk krama) dari mburi (belakang). Hal tersebut sesuai dengan keletakan alun-alun Kidul yang memang terletak di belakang keraton. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah. Di antara gapura utara dan selatan di sisi barat terdapat ngGajahan sebuah kandang guna memelihara gajah milik Sultan.Di sekeliling alun-alun ditanami pohon mangga, pakeldan kuini. Pohon beringin hanya terdapat dua pasang. Sepasang di tengah alun-alun yang dinamakan Supit Urang (harfiah=capit udang) dan sepasang lagi di kanan-kiri gapura sisi selatan yang dinamakan Wok(dari kata bewok, jenggot). Dari gapura sisi selatan terdapat jalan Plengkung Gading yang menghubungkan dengan Plengkung Nirbaya.Alun-alun selatan, dulunya tempat latihan baris prajurit keraton, sehari sebelum upacara grebeg. Tempat itu juga sebagai ajang sowan abdi dalem wedana prajurit berserta anak buahnya, di malam bulan Puasa tanggal 23, 25, 27 dan 29. Namun sejak Sri Sultan HB VIII bertahta, pisowanan ini dihentikan. Ada satu tradisi permainan yang sangat menarik di alun alun selatan yang disebut Masangin. Masangin adalah memasuki celah di antara dua pohon beringin di tengah alun-alun itu dalam keadaan mata tertutup.Tampaknya sepele, tapi tak gampang. Banyak yang menjajal, tapi gagal. Selalu berbelok arahWisata Indonesia Surga Dunia.

 

Bapak-bapak Ibu-ibu kita sekarang melewati plengkung Gading. Gerbang Plengkung-Menurut sejarah Kraton Yogyakarta mempunyai pintu gerbang (Plengkung) yang berjumlah lima buah pada bentengnya, yaitu:

  1. Plengkung Tarunosuro yang terletak di sebelah tumur alun-alun utara yang sekarang lebih dikenal sebagai Plengkung wijilan karena berada di daerah Wijilan.
  2. Plengkung Madyasura di sisi timur Kraton Yogyakarta. Plengkung ini ditutup pada 23 juni 1812, karena itu kemudian dikenal sebagai plengkung Buntet(tertutup). pada masa pemerintahan Sultan hamengkubuwana ke VIII plengkung tersebut dibongkar dan kemudian diganti dengan gapura gerbang biasa.
  3. Plengkung Nirbaya, letaknya disebelah selatan alun alun selatan dan sekerang lebih dikenal sebagai Plengkung Gading. Plengkung Nirbaya merupakan ujung selatan poros utama keraton. Dari tempat ini Sultan HB I masuk ke Keraton Yogyakarta pada saat perpindahan pusat pemerintahan dari Kedhaton Ambar Ketawang. Gerbang ini secara tradisi digunakan sebagai rute keluar untuk prosesi panjang pemakaman Sultan ke Imogiri. Untuk alasan inilah tempat ini kemudian menjadi tertutup bagi Sultan yang sedang bertahta.
  4. Plengklung Jagabaya terletak disebelah barat yang lebih dikenal sebagi plengkung taman sari karena letaknya berdekatan dengan Taman Sari.
  5. Plengklung Jagasura terletak disebelah barat alun-alun utara dan lebih banyak dikenal sebagai plengkung gerjen

 

disebelahkanan Anda adalah pamggumg krapyak. Alkisah wilayah Krapyak, yang kini berada di selatan Kraton Yogyakarta, dahulu merupakan hutan lebat. Beragam jenis hewan liar terdapat di sini, salah satunya rusa atau dalam bahasa Jawa disebut menjangan. Tak heran bila wilayah ini dulu banyak digunakan sebagai tempat berburu oleh Raja-Raja Mataram.Raden Mas Jolang yang bergelar Prabu Hanyokrowati, raja kedua Kerajaan Mataram Islam dan putra Panembahan Senopati, adalah salah satu raja yang memanfaatkan Hutan Krapyak sebagai tempat berburu. Pada tahun 1613, beliau mengalami kecelakaan dalam perburuan dan akhirnya meninggal di sini. Beliau dimakamkan di Kotagede dan diberi gelar Panembahan Seda Krapyak (berarti raja yang meninggal di Hutan Krapyak).

Arsitektur bangunan panggung ini cukup unik. Setiap sisi bangunan memiliki sebuah pintu dan dua buah jendela. Pintu dan jendela itu hanya berupa sebuah lubang, tanpa penutup. Bagian bawah pintu dan jendela berbentuk persegi tetapi bagian atasnya melengkung, seperti rancangan pintu dan jendela di masjid-masijd.Ketinggian bangunan ini menyebabkan beberapa orang menduga bahwa Panggung Krapyak juga digunakan sebagai pos pertahanan. Konon, dari tempat ini gerakan musuh dari arah selatan bisa dipantau sehingga bisa memberikan peringatan dini kepada Kraton Yogyakarta bila terjadi serangan. Para prajurit secara bergantian ditugaskan untuk berjaga di tempat ini, sekaligus berlatih berburu dan olah kanuragan (kemampuan berperang).Panggung Krapyak termasuk bangunan yang terletak di poros imajiner kota Yogyakarta, menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Jogja, Kraton Yogyakarta, Panggung Krapyak dan Laut Selatan. Poros Panggung Krapyak hingga Kraton menggambarkan perjalanan manusia dari lahir hingga dewasa. Wilayah sekitar panggung melambangkan kehidupan manusia saat masih dalam kandungan, ditandai dengan adanya kampung Mijen di sebelah utara Panggung Krapyak sebagai lambang benih manusia.Mengunjungi Panggung Krapyak, berarti mengunjungi salah satu bangunan penting bagi Kraton Yogyakarta.

Sebelah kiri anda adalah Prawirotaman. Dulunya, Prawirotaman benar-benar sebuah perkampungan. Kampung ini dikenal sejak abad ke-19. Ketika itu, kraton menghadiahkan sepetak tanah kepada seorang bangsawan bernama Prawirotomo.Kampung ini pernah menjadi markas laskar pejuang di masa pra kemerdekaan. Itu sebabnya, hingga kini Jalan Prawirotaman II dan III yang berada di bagian paling selatan kawasan ini dikenal dengan nama Jalan Gerilya. Dulunya, kedua kawasan itu merupakan markas laskar pejuang, yakni laskar Prajurit Hantu Maut dan laskar Prajurit Prawirotomo. Di salah satu sudut jalan, tampak sebuah batu tulis untuk memperingati perjuangan mereka. Pada tahun 1960-an, kampung markas pejuang itu menjadi pusat industri batik cap yang dikelola keturunan Prawirotomo. Mereka kemudian mengubah usahanya menjadi jasa penginapan setelah industri batik cap kian meredup di era 1970-an. Sejak itulah, kawasan ini dikenal sebagai kampung turis.Kawasan yang paling dikenal adalah Prawirotaman I. Disinilah pusat penginapan dan berbagai fasilitas. Toko-toko bukunya menjual buku-buku bagus dengan harga yang sangat murah. Buku-buku impor seharga ratusan ribu rupiah bisa didapat hanya dengan puluhan ribu rupiah saja. Wisatawan yang menyukai koleksi barang antik bisa berburu di galeri-galeri seni yang ada. Kalau beruntung mungkin bisa mendapatkan alat cap batik, yang memang banyak diburu turis mancanegara. Selain memiliki nilai sejarah, detail motif cap itu sangat rumit dan otentik.Pasar tradisional berada di Prawirotaman II. Di pasar ini banyak dijual jajanan pasar tradisional Yogya yang mengundang selera untuk dicicipi. Sementara itu di kawasan Prawirotaman III, kebanyakan adalah pemukiman penduduk setempat. RH (BI 55).

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Kata “batik” berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: “amba”, yang bermakna “menulis” dan “titik” yang bermakna “titik” Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.Batik dipakai untuk membungkus seluruh tubuh oleh penari Tari Bedhoyo Ketawang di keraton jawa.

Corak batik

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Cara pembuatan

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Jenis batik Menurut teknik

  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
  • Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.

Menurut asal pembuatan

Batik Jawa

batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunyai motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.

 

Disebelah kanan AndaPasar telo atau pasar ketela Karangkajen, merupakan salah satu pasar tradisional yang masih bertahan di tengah gempuran berdirinya swalayan maupun mall-mall di Kota Yogyakarta. Pasar tradisional ini tergolong unik, karena hanya khusus menyediakan satu jenis barang dagangan, yaitu telo atau ketela. Dinamakan Pasar Telo Karangkajen karena letaknya berada di wilayah Karangkajen, tepatnya di tepi jalan, di sebelah selatan Yogya ke arah jalan lintas menuju jalan Imogiri.Telo atau ketela, baik ketela rambat (telo pendem) atau p

ohung (telo kaspo) bisa didapatkan di pasar telo ini. Dalam jumlah yang tidak sedikit, kios-kios di pasar telo menimbun dagangannya. Dari pasar telo di Karangkaen ini kemudian telo menyebar atau didistrubusikan ke banyak tempat, termasuk pada para pedagang gorengan.Pada pedagang gorengan inilah ketela kemudian berubah bentuk dan berganti nama. Ada yang namanya limpung, balok, gethuk, cothot dan seterusnya. Nama-nama jenis makanan yang berasal dari ketela itu merupakan jenis makanan lokal (jawa) yang bentuknya bermacam-macam. Tampaknya pasar telo tidak terlalu terpengaruh atas kehadiran mall. Karena relasi pasar telo adalah para bakul yang akan kembali menjual ketela yang dibeli kepada konsumen lainnya, yang sifatnya individual. Artinya, ketela sulit ditemukan di super market yang telah dikemas, misalnya seperti mentimun. Barangkali, karena kondisi ketela yang (biasanya) masih tertempel tanah pada kulit ketela, membuat super market tidak “tertarik” untuk memajangnya.Soalnya bukan, apakah ketela bisa ditemukan di pasar tradisional atau tidak. Yang lebih penting untuk dimengerti adalah, bahwa di Yogya, jenis pasar khusus seperti pasar telo di Karangkajen, atau pasar buah di Gamping, tidak meninggalkan relasinya. Yang menarik dari pasar telo adalah, dari segi tempat, sampai sekarang tidak berpindah tempat. Masih tetap di Karangkajen, sehingga kapan menyebut nama Karangkajen asosiasi orang Yogya akan mengarah pada pasar telo.Dan yang lebih menarik lagi, kondisi pasar telo sekarang jauh lebih tertata dan bersih dari pasar telo beberapa tahun lalu. Pada beberapa tahun lalu, ketela yang ditimbun sampai memenuhi tepi jalan, tetapi sekarang telah jauh lebih rapi.

Di sebelah kananRumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wirosaban Kota Yogyakarta adalah Rumah sakit Umum kelas C yang dibentuk berdasarkan Surat Keterangan (SK) Menteri Kesehatan RI No. 496/Menkes/SKV/1994, dan dikukuhkan dengan Peraturan daerah no. 1 tahun 1996.Berdasarkan Perda no. 47 Tahun 2000, kegiatan operasionalnya dimulai pada 10 Oktober 1987 dan menjadi unsur pelaksana Pemerintah Daerah dalam bidang Pelayanan Kesehatan untuk Rumah Sakit.Rumah sakit ini mempunyai visi dan misi sebagai pelaksana pelayanan prima dalam bidang kesehatan yang sesuai dengan standar pelayanan dan mewujudkan pengembangan pelayanan perumah sakitan dan manajemen rumah sakit yang memuaskan.Dengan motto Pelayanan dengan Senyum, Sapa, Sopan, Santun dan Sembuh (5S), rumah sakit ini bertekat untuk menjadi pusat pelayanan kesehatan masyarakat Kota Yogyakarta dan sekitarnya yang membutuhkan layanan kesehatan.
Jenis Layanan:
– Poliklinik Spesialis
– Poliklinik Spesialis Anak.
– Poliklinik Spesialis Bedah.
– Poliklinik Spesialis Dalam
– Poliklinik Spesialis Kebidanan dan kandungan
– Poliklinik Spesialis Kulit dan Kelamin.
– Poliklinik Spesialis Kulit dan kelamin
– Poliklinik Spesialis THT
– Poliklinik Spesialis Mata
– Poliklinik Spesialis  Syaraf
– Poliklinik Spesialis Jiwa
– Poliklinik Gigi dan Mulut
– Poliklinik Konsultasi Gizi

– Pelayanan Gawat Darurat

Nah, Bapak-bapak Ibu-ibu kita telah sampai kembali di SMK 4 yogyakarta. Demikian yang dapat saya sampaikan, apabila terdapat banyak kata yang kurang berkenan dihati Anda, saya mohon maaf. Saya harap jika Anda berkunjung ke Yogyakarta kembali, Anda menggunakan jasa saya sebagai pemandu Anda dengan menghubungi kantor saya yaitu Sun Indo Tour & Travell. Dan kami berjanji akan memberikan layanan yang lebih baik lagi. Terima kasih atas perhatiannya dan selamat sore.

(CATATAN : Komentar pemanduan city tour ini, digunakan sebagai praktek anak-anak UPW SMKN 4 Jogjakarta dan rute disesuaikan dengan keperluan praktek. Untuk rute city tour di jogja sangat banyak tergantung dari masing-masing travel dalam menawarkan paket wisata nya. Komentar City Tour ini disusun Oleh Dian Pertiwi, siswa UPW angkatan 2012/2013)

Posted 9 Mei 2016 by Edi Sutriyono